Posted by on Okt 22, 2018 in Penyakit Dalam | 0 comments

Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.

Patogenesis

Gambar patogenesis tuberkulosis

Tanda dan Gejala

Gejala umum/nonspesifik tuberkulosis anak adalah:

  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi.
  • Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara adekuat (failure to thrive).
  • Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria, atau infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat malam.
  • Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya multipel.
  • Batuk lama lebih dari 30 hari.
  • Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.

Gejala spesifik sesuai organ yang terkena: TB kulit/skrofuloderma; TB tulang dan sendi (gibbus, pincang); TB otak dan saraf/meningitis dengan gejala iritabel, kuduk kaku, muntah, dan kesadaran menurun; TB mata (konjungtivitis fliktenularis, tuberkel koroid), dll.

Pemeriksaan Penunjang

Pembacaan hasil uji tuberkulin dilakukan setelah 48-72 jam, dengan hasil positif bila terdapat indurasi diameter lebih dari 10 mm, meragukan bila 5-9 mm. Uji tuberkulin bisa diulang setelah 1-2 minggu. Pada anak yang telah mendapat BCG, diameter indurasi 15 mm ke atas baru dinyatakan positif, sedangkan pada anak kontak erat dengan penderita TB aktif, diam­eter indurasi ≥ 5 mm harus dinilai positif. Alergi disebabkan oleh keadaan infeksi berat, pemberian imunosupresan, penyakit keganasan (leukemia), dapat pula oleh gizi buruk, morbili, varisela, dan penyakit infeksi lain.

Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar hilus, paratrakeal dan mediastinum, atelektasis, konsolidasi, efusi pleura, kavitas, dan gambaran milier. Bakteriologis, bahan biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu cukup lama. Saat ini tengah dikembangkan metode baru untuk biakan kuman yaitu Bactec.

Serodiagnosis, beberapa di antaranya dengan dengan cara ELISA (enzyme linked immunoabsorbent assay) untuk mendeteksi antibodi atau uji  peroxidase-anti peroxidase (PAP) untuk menentukan IgG spesifik.

Teknik biomolekular, merupakan pemeriksaan sensitif dengan mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan dengan metode PCR (polymerase chain reaction).

Uji serodiagnosis maupun biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak.

Penatalaksanaan

Regimen dasar pengobatan TB adalah kombinasi INH dan RIF selama 6 bulan dengan PZA pada 2 bulan pertama. Pada TB berat dan ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan (ditambah EMB dan streptomisin), dilanjutkan dengan INH dan RIF selama 4-10 bulan sesuai perkembangan klinis.

Pada meningitis TB, perikarditis, TB milier, dan efusi pleura diberikan kortikosteroid, yaitu prednison 1-2 mg/kgBB/hari selama 2 minggu, diturunkan perlahan (tapering off)  sampai 2-6 minggu.

Kemoprofilaksis

Kemoprofilaksis primer diberikan pada anak yang belum terinfeksi (uji tuberkulin negatif), tetapi kontak dengan penderita TB aktif. Obat yang digunakan adalah INH 5-10 mg/kgBB/ hari selama 2-3 bulan.

Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak dengan uji tuberkulin positif, tanpa gejala klinis, dan foto paru normal, tetapi memiliki faktor risiko menjadi TB aktif. Golongan ini adalah balita, anak yang mendapat pengobatan kortikosteroid atau imunosupresan lain, penderita penyakit keganasan, terinfeksi virus (HIV, morbili), gizi buruk, masa akil balik, atau infeksi baru TB, konversi uji tuberkulin kurang dari 12 bulan. Obat yang digunakan adalah INH 5-10 mg/kgBB/hari selama 6-12 bulan.

Asuhan Keperawatan

A.Pengkajian

  1. Identitas Data Umum (selain identitas klien, juga identitas orangtua; asal kota dan daerah, jumlah keluarga)
  2. Keluhan Utama (penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit)
  3. Riwayat kehamilan dan kelahiran
  4. Riwayat penyakit terdahulu
  5. Riwayat Penyakit Sekarang (Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula)
  6. Riwayat Keluarga (adakah yang menderita TB atau Penyakit Infeksi lainnya, Biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama)
  7. Pola fungsi kesehatan.
    • Keadaan umum: alergi, kebiasaan, imunisasi.
    • Pola nutrisi – metabolik. Anoreksia, mual, tidak enak diperut, BB turun, turgor kulit jelek, kulit kering dan kehilangan lemak sub kutan, sulit dan sakit menelan, turgor kulit jelek.
    • Pola aktifitas-latihan Sesak nafas, fatique, tachicardia, aktifitas berat timbul sesak nafas (nafas pendek).
    • Pola tidur dan istirahat : sulit tidur, berkeringat pada malam hari.
    • Pola kognitif perseptual. Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa, nyeri tulang umum, takut, masalah finansial, umumnya dari keluarga tidak mampu
    • .Pola persepsi diri. Anak tidak percaya diri, pasif, kadang pemarah.
    • Pola peran hubungan Anak menjadi ketergantungan terhadap orang lain (ibu/ayah)/tidak mandiri.
  8. Pemeriksaan fisik
    • Demam: sub fibril, fibril (40-41°C)
    • Batuk: terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/ mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulen (menghasilkan sputum).
    • Sesak nafas: terjadi bila sudah lanjut, dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.
    • Nyeri dada: ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura.
    • Malaise: ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan kering diwaktu malam hari.
    • Pada tahap dini sulit diketahui. Ronchi basah, kasar dan nyaring. Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara limforik. Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak)

B. Diagnosa keperawatan

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
  2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
  3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan

C. Perencanaan

  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan jalan nafas kembali efektif dalam waktu 3×24 jam. Dengan kriteria hasil   :Sekret berkurang sampai dengan hilang, pernafasan dalam batas normal 40-60x/menit

Intervensi:

  • Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.

R  : untuk mengetahui tingkat sakit dan tindakan apa yang harus dilakukan

  • Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.

R : untuk mengetahui perkembangan kesehatan pasien

  • Berikan pasien posisi semi atau fowler,

R: semi fowler memudahkan pasien untuk bernafas

  • Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu.

R : untuk mencegah penyebaran infeksi

  • Berikan terapi oksigen

R  : pemberian oksigen dapat memudahkan pasien untuk bernafas

  1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak demam dalam waktu 3×24 jam.

Dengan kriteria hasil  : tidak terjadi penyebaran infeksi

Intervensi:

  • Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk mendapatkan terapi pencegahan.

R : Pengetahuan dan terapi dapat meminimalkan kerentanan terjadinya penyebaran

  • Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk

R : Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.

  • Gunakan masker setiap melakukan tindakan

R : Masker dapat mengurangi resiko penyebaran infeksi

  • Monitor temperature

R : untuk mengetahui adanya indikasi terjadinya infeksi. Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.

  • Kolaborasi Pemberian terapi untuk anak

R : Kerja sama akan mempercepat proses penyembuhan

  • Monitor sputum BTA. Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA negatif, terapi diteruskan sampai batas waktu yang ditentukan.

R : Pemantauan untuk terapi yang akan dilaksanakan selanjutnya

  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan

Tujuan             : setelah dilakukan tndakan keperawatn 3×24 jam nutrisi pasien adekuat.

Kriteria hasil    : Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien, pemulihan kebutuhan nutrisi, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang. Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per sonde/per oral) sesuai program diet.

Intervensi:

  • Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat.

R: agar pemenuhan nutrisi terpenuhi sehingga penyembuhan bisa lebih cepat

  • Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga untuk melakukannya sendiri.

R : Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien.

  • Laksanakan pemberian roborans sesuai program terapi.

R : Roborans, meningkatkan nafsu makan, proses absorbsi dan memenuhi defisit yang menyertai keadaan malnutrisi.

  • Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap pagi.

R : Menilai perkembangan masalah klien.

  • Memberi makan lewat parenteral ( D 5% )

R : Mengganti zat-zat makanan secara cepat melalui parenteral

D. Evaluasi

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat Datang,